Kisah Masjid Yang Dibakar Oleh Rasulullah

Kisah Masjid Yang Dibakar Oleh Rasulullah

Sahabat ibrahkisah.com yang semoga senantiasa dirahmati Allah. Kok bisa ya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk membakar masjid? Ada apa dibalik permasalahan tersebut? Apa yang membuat Nabi menginstruksikan untuk membakar masjid tersebut? Inilah kisah tentang masjid yang dibakar oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Masjid ini dikenal dengan nama "Masjid Dhirar". Dhirar berasal dari kata dharara yang artinya adalah bahaya atau membahayakan. Jadi, masjid dhirar artinya adalah "masjid yang membawa bahaya", loh kenapa masjid kok membawa bahaya? Bukankah masjid itu adalah rumah Allah dan tidak lain membawa rahmat? Bukankah setiap kali kita masuk ke masjid kita selalu berdo'a meminta rahmat?

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untuk ku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 314).
— Do'a Masuk Masjid

Nanti insyaAllah kita akan mengetahui sebab kenapa masjid ini dinamakan dengan masjid dhirar. Kita akan mengetahui tentang asal-usul dibangunnya masjid ini sehingga Nabi shallallalahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk merobohkan dan membakarnya.

Masjid ini didirikan atas perintah dari seseorang yang bernama Abu Amir ar-Rahib. Ia adalah seorang Nashrani yang berasal dari suku Khazraj. Ia mempunyai kedudukan yang tinggi di mata kaumnya sebelum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Sebab, sejak kecil ia termasuk orang yang senang berbuat baik, tekun beribadah, serta waktu kecilnya digunakan untuk menelaah kitab-kitab. Sehingga, ia adalah sosok yang dihormati dan berwibawa di mata kaumnya.

Akan tetapi, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah dari Makkah ke Madinah, lama-kelamaan kepemimpinan yang dimiliki oleh Abu Amir ar-Rahib kian surut dan kepemimpinan pindah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih lagi setelah dua tahun berjalan, setelah perang badar selesai. Rasulullah makin kuat kepemimpinannya di Madinah (Yatsrib saat itu).

Hal inilah yang kemudian membuat Abu Amir ar-Rahib tidak senang. Ia merasa bahwa kedudukan terhormat yang mustinya ada di tangannya malah jatuh kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Muncul rasa iri pada hati Abu Amir ar-Rahib. Akhirnya, ia membenci Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan ia secara terang-terangan menentang Rasulullah. Ia kabur dari Madinah dan pergi ke Makkah untuk meminta suaka.

Abu Amir ar-Rahib inilah yang kemudian menjadi salah satu otak di balik perang uhud. Dia mengajak orang-orang Makkah untuk memerangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Akhirnya terjadilah Perang Uhud. Abu Amir ar-Rahib juga lah yang telah membuat lubang-lubang di bukit uhud yang nanti ketika perang Rasulullah terjatuh di salah satu lubang yang dibuat olehnya. Sehingga Rasulullah pada saat itu mendapatkan banyak luka-luka. Silahkan dibaca lebih lengkap tentang Perang Uhud.

Tapi tetap saja, kesudahan yang baik adalah milik muslimin. Walaupun pada saat itu kaum muslimin sempat kalah di pertengahan pertempuran, banyak banyak sahabat yang luka-luka bahkan duka. Banyak sahabat-sahabat yang gugur pada saat perang uhud. Ada 70 orang sahabat yang gugur sebagai syahid. Akan tetapi muslimin kembali bangkit dan berhasil memukul mundur pasukan kafir Makkah.

Pada saat awal peperangan Uhud (sebelum terjadi perang), Abu Amir ar-Rahib sempat maju ke depan pasukan menghadap kepada kaumnya dari kalangan orang-orang Anshar. Ia berkata kepada mereka dan mengajak mereka untuk ikut bergabung dengannya. Namun orang-orang Anshar menjawab dengan melemparinya dan menghinanya. Kemudian Abu Amir ar-Rahib berkata kepada mereka, "Sesungguhnya kaumku telah ditimpa keburukan sepeninggalku".

Sebelum dia melarikan diri (kabur ke Makkah) dia pernah diajak untuk bertaubat oleh Rasulullah dan dibacakan al-Quran kepadanya. Akan tetapi dia tetap membangkang dan tidak mau masuk Islam bahkan malah semakin menjadi-jadi permusuhannya dengan Islam. Sehingga ia tergabung dalam pasukan kafir dalam perang Uhud. Maka Rasulullah mendo'akan kecelakaan baginya dan mati di negeri yang jauh lagi terhina. Permusuhannya terus saja dilakukan olehya sampai akhirnya dia kalah dalam perang hawazin, dan ia kemudian kabur dan meminta perlindungan kepada Romawi (Raja Heraklius). Dia pun meninggal di sana dan terhina di sana (do'a Rasulullah terkabul).

Romawi adalah harapan terakhirnya untuk bisa mengalahkan Rasulullah. Karena Romawi adalah penguasa adidaya saat itu. Romawi pun mengabulkan permintaanya sehingga Abu Amir tinggal beberapa saat di Romawi. Saat Abu Amir ar-Rahib ini tinggal di Romawi, maka dia berkirim surat kepada teman-temannya dari kalangan orang-orang munafik yang ada di Madinah.

Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengalahkannya serta menghentikan kegiatannya. Lalu Abu Amir menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai sebagai tempat berlindung bagi orang-orang yang datang kepada mereka darinya. Tempat itu digunakan sekaligus sebagai tempat pengintaian baginya dan Romawi, kelak di masa depan bila datang kepada mereka.

Di dalam riwayat yang lain, Abu Amir mengatakan kepada orang-orangnya di dalam surat yang dikirimkannya itu, dia mengatakan sebagai berikut,

"Bangunlah sebuah masjid, dan buatlah persiapan semampu kalian untuk menghimpun senjata dan kekuatan, sesungguhnya aku akan berangkat menuju ke Kaisar Romawi untuk meminta bantuan. Aku akan mendatangkan bala tentara dari kerajaan Romawi untuk mengusir Muhammad dan sahabatnya dari Madinah".
— Abu Amir ar-Rahib

Teman-temannya dari kalangan orang-orang munafik itu pun kemudian mulai membuat dan membangun masjid yang diminta oleh Abu Amir yang fungsinya adalah sebagaimana yang tercantum di dalam surat Abu Amir ar-Rahib, yang telah Allah bongkar melalui firman-Nya di dalam surat at-Taubah ayat 107. Karena tujuan yang membahayakan kaum muslimin inilah kemudian masjid itu disebut sebagai "Masjid Dhirar".

Teman-temannya dapat menyelesaikan pembangunannya sebelum perang Tabuk (perang melawan Romawi) terjadi. Lebih tepatnya selesai ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang di perjalanan menuju Tabuk. Mereka para pembuat masjid dhirar datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Ya Rasulallah, sesungguhnya kami baru saja selesai membangun sebuah masjid, kami senang bila engkau shalat di masjid kami dan mendo'akan keberkahan".

Hal ini mereka lakukan karena sebetulnya mereka ingin mendapatkan legalisasi/legitimasi dari Rasulullah tentang adanya masjid baru ini yang mereka bangun di dekat masjid Quba. Mereka mengemukakan alasannya kepada Rasulullah bahwa masjid ini dibangun diperuntukkan bagi orang-orang yang tua dan lemah, supaya tidak terlalu jauh di saat shalat malam hari yang sangat dingin.

Rasulullah pun menjawab, "Sesungguhnya kami sedang dalam keadaan safar (perjalanan menuju tabuk), akan tetapi insyaAllah nanti jika sudah pulang, kami insyaAllah akan datang memenuhi undangan kalian".

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai dari perang tabuk, dalam perjalanan pulang menuju Madinah, Rasulullah sempat beristirahat pada sebuah tempat yang bernama Zu Awan (tempat di mana sebelumnya para pembuat masjid dhirar mendatangi Rasulullah untuk meminta legitimasi). Jaraknya dari Madinah hanya tinggal sejauh perjalanan satu atau setengah hari saja. Di saat inilah Jibril 'alaihissalam turun membawa wahyu (menurunkan surat at-Taubah ayat 107 sampai dengan ayat 110) yang mebawa kabar tentang masjid tersebut.

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًاۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bahaya (kepada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta."
— QS. at-Taubah : 107

Setelah mengetahui hal ini, maka Rasulullah langsung memerintahkan dua sahabat nabi, yaitu Malik bin Dukhsyum dan Ma'an bin Adi untuk pergi ke masjid tersebut dan membakarnya. Rasulullah bersabda,

"Datanglah kalian berdua ke masjid ini yang pemiliknya dzalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya!"
— Rasulullah S.A.W.

Maka keduanya berangkat dengan segera, berjalan dengan cepat menuju ke Bani Salim ibnu Auf (tempat masjid dhirar didirikan). Sesampainya mereka berdua di sana, Malik bin Dukhsyum berkata kepada sahabatnya Ma'an, "Tunggulah di sini, saya akan pulang kepada keluargaku untuk mengambil api rumah". Maka Malik bin Dukhsyum masuk ke rumah keluarganya mengambil seikat daun kurma kering lalu menyalakannya.

Setelah itu keduanya menuju masjid dan memasukinya kemudian membakarnya. Orang-orang yang ada di dalamnya kemudian berlarian dan berhamburan keluar dari masjid. Disebutkan bahwa orang-orang yang membuat masjid dhirar ini terdiri dari dua belas orang lelaki golongan munafik, diantaranya ada Khaddam ibnu Khalid, Tsa'labah ibnu Hatib, Mawali ibnu Umayyah ibnu Yazid dan lain-lain.

Pelajaran Kisah

Demikianlah masjid dhirar, masjid yang didirikan bukan atas dasar takwa, tetapi masjid yang didirikan atas dasar memang untuk membahayakan kaum muslimin, dalam rangka kekafiran, memecah belah mukminin, dan sebagai pengintaian bagi musuh-musuh Islam (orang-orang kafir; sebagai inteligen). Maka masjid semacam ini harus dihentikan dan dihancurkan demi kemaslahatan agama dan ummat islam. Makanya Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk merobohkan dan membakar masjid semacam ini.

Ibrah dan hikmah lainnya adalah segala sesuatu yang dibangun di atas dasar bukan ketakwaan maka akan hancur dan binasa. Maka jika membangun atau melakukan sesuatu harus didasari dengan takwa, maka insyaAllah hasilnya pun akan sampai ke akhirat. Tuliskan hikmah yang lainnya di kolom komentar ya.

sumber : Tafsir Ibnu Katsir. Surat at-Taubah ayat 107 s.d. ayat 110

Ahmad Sibyan

Hai, saya adalah penulis di website ibrahkisah.com. Tempat tinggal saya saat ini berada di Bekasi. Pekerjaan saya sehari-hari adalah menulis dan mengajar sebagai guru di sekolah.

Post a Comment

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال