Kisah Seseorang Yang Bekerja Kepada Allah

Bekerja Kepada Allah

Urusan rezeki adalah mutlak pemberian Allah subhanahu wa ta'ala. Kewajiban manusia hanyalah sekedar berusaha saja. Berusaha (bekerja) semampunya untuk mencari rezeki dengan tanpa melanggar syariat Allah subhanahu wa ta'ala, tetap berusaha (bekerja) dengan terus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana kisah berikut ini;

Kisah ini diceritakan oleh Wahab bin Munabbih; bahwa suatu ketika pada masa Bani Israil ada seorang abid (hamba Allah) yang hidup bersama keluarganya. Ia dan keluarganya adalah termasuk keluarga yang kurang berada (miskin). Ia bersama keluarganya sudah tujuh hari dalam keadaan kelaparan dan tidak mempunyai makanan yang cukup. Anak-anaknya menangis gara-gara kelaparan.

Maka istrinya pun berkata kepadanya, "Coba engkau pergi keluar mencari sesuatu untuk kami, anak-anak sudah pada menangis karena kelaparan, kita sudah tidak punya stok makanan".

Ia pun keluar pergi ke pasar untuk berikhtiar (berusaha) mencari pekerjaan dan penghasilan. Ia datang ke pasar dan berkumpul dengan para pekerja lain menunggu jemputan kerjaan. Satu persatu para pekerja sudah mendapatkan kerjaan kecuali dirinya. Tak satupun ada yang mengambil dirinya (untuk mengambil tenaga dan jasanya).

Karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ia bergumam dalam hati, "Demi Allah, hari ini saya akan bekerja kepada Tuhanku saja". Maka ia pergi menyendiri menuju ke tepi pantai, ia kemudian mandi dan shalat serta beribadah di sana. Ia melaksanakan hal itu sampai waktu sudah menjelang sore hari. Lalu ia pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, istrinya bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau kerjakan hari ini?". Ia pun menjawab, "Aku telah bekerja kepada salah seorang dari guruku, dia telah berjanji bahwa dia akan memberikan upah kepadaku".

Keesokan harinya, ia pergi ke pasar lagi untuk mencari pekerjaan. Sebagaimana sebelumnya, ia kumpul bersama para pekerja lain untuk menunggu jemputan kerjaan. Satu persatu para pekerja sudah mendapatkan kerjaan. Tapi tak satupun yang mengambil dirinya untuk mempekerjakannya.

Ia pun bergumam lagi dalam hati, "Demi Allah, hari ini saya akan bekerja kepada Tuhanku saja". Maka ia pun kembali menyendiri pergi ke tepian pantai kemudian ia mandi dan shalat serta beribadah di sana hingga waktu menjelang sore hari. Kemudian ia pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, istrinya kembali bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau kerjakan hari ini? dan apa yang telah engkau dapatkan?". Ia menjawab, "Aku telah bekerja kepada salah seorang dari guruku, ia telah berjanji bahwa dia akan memberiku upah setelah terkumpul".

Mendengar jawabannya, Istrinya pun marah kepadanya, karena tidak kunjung mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan. Maka ia pun gelisah malam itu, ia tidak bisa tidur memikirkan kondisi keluarganya, memikirkan anak-anaknya yang menangis karena kelaparan.

Keesokan harinya lagi, Ia kemudian pergi ke pasar lagi untuk mencari pekerjaan, ia pun berkumpul bersama dengan para pekerja lain untuk menunggu jemputan pekerjaan. Satu persatu para pekerja lain sudah mendapatkan pekerjaan. Tapi lagi-lagi tak satupun orang yang mengambil dirinya untuk mempekerjakannya.

Maka ia pun kembali bergumam dalam hati, "Demi Allah, hari ini saya akan bekerja kepada Tuhanku saja!". Akhirnya ia kembali menyendiri pergi ke tepian pantai untuk beribadah di sana. Ia mandi, melaksanakan shalat, dan beribadah hingga waktu sudah menjelang sore hari.

Ketika hendak pulang, ia berkata dalam hati, "Ya Allah, kemana saya akan pergi, sedangkan di rumah saya meninggalkan anak-anak yang menangis karena kelaparan".

Kemudian ia terpaksa melangkahkan kaki untuk pulang ke rumah dalam keadaan lesu. Akan tetapi pada saat sudah hampir sampai di rumah, ia mendengarkan suara canda tawa keluarganya, ia juga mencium aroma wangi daging bakar (dendeng) dari dalam rumahnya.

Karena ia tidak percaya dengan hal ini, maka ia menepuk-nepuk pipi dan mengusap-usap matanya, dikhawatirkan ini adalah mimpi, sembari bergumam dalam hati, "Saya ini sedang mimpi atau bukan? Tadi saya meninggalkan keluarga dalam kondisi kelaparan dan (anak-anak) menangis, akan tetapi sekarang saya mendengar canda tawa dan riang gembira, serta aroma wangi daging bakar".

Lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu, dan mengetuk pintunya. Lalu istrinya keluar dalam kondisi wajah yang gembira dan berbinar-binar, seraya berkata kepadanya, "Wahai suamiku, tadi orang suruhan gurumu datang, ia membawa bawaan yang banyak, ia membawa beberapa dinar dan dirham, ia juga membawa baju, daging, dan tepung. Ia juga berpesan bahwa, 'Jika suamimu datang, tolong sampaikan salam kepadanya, dan tolong sampaikan juga pesan gurunya kepadanya, "Aku telah melihat pekerjaanmu, dan Aku puas dengan hasil kerjamu. Jika engkau mau untuk menambah kerjaanmu, maka Aku akan menambahkan pula gajimu"'.".

Pelajaran Kisah

MaasyaAllah, ini adalah kisah yang luar biasa, dan ini adalah gambaran dari konsep mencari rezeki yang sesungguhnya, bahwa di dalam mencari rezeki maka kita harus berusaha, akan tetapi di dalam berusaha kita tetap harus memperhatikan perintah dan larangan-Nya.

Kebanyakan orang hari ini mereka bekerja berusaha mencari nafkah, akan tetapi mereka lalai dengan beribadah kepada-Nya. Padahal, soal rezeki mutlak Allah yang memberikan kepada mereka. Mereka hanya diperintahkan untuk berusaha semampunya dengan tetap beribadah kepada-Nya. Waktunya bekerja silakan bekerja, tapi jika waktunya beribadah juga harus beribadah, walaupun saat itu sedang ramai pelanggan misalnya, tetap tinggalkan pekerjaan itu sejenak untuk beribadah. Urusan hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Sebagaimana kisah orang tersebut di atas. Dia sudah berusaha semampunya mencari kerjaan di pasar, Qaddarullah memang dia belum dapat kerjaan, akhirnya dia hentikan usaha itu dan dia beribadah kepada Allah SWT. Yang terpenting dia sudah berusaha semampunya. Jika sudah begitu apa hasilnya? Lihatlah dia mendapatkan hasil kerjanya, dan dikirimkan langsung ke rumahnya.

Tidak hanya itu, dia juga mendapatkan salam dari 'gurunya'. Siapa kira-kira 'gurunya'? Padahal tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, dan dia selalu merahasiakan pekerjaannya itu. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Allah SWT.

sumber: 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, halaman 308 s.d. 310
Previous Post Next Post

نموذج الاتصال